Indonesia punya luas lebih dari 5 juta km2, membuatnya punya banyak kekayaan bahan pangan yang beragam. KIta punya sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang begitu kaya.

 

Misalnya saja pilihan karbohidrat di Indonesia. Tak hanya nasi putih, kita punya aneka umbi-umbian yang tak kalah bikin kenyang.

 

Dilansir dari Pengantar Pusaka Cita Rasa Indonesia karya Prof. Dr. Ir. Murdijati-Gardjito, pada tahun 1940, Bung Karno pernah mengungkap bahwa dalam tahun tersebut, rata-rata makanan Indonesia untuk rakyatnya adalah 86 kg beras, 39 kg jagung, 162 kg ubi kayu, dan 30 kg ubi jalar.

 

Sebenarnya pada tahun 1967, Indonesia telah melakukan upaya diversifikasi pangan secara regional. Saat itu, dalam Mustika Rasa, telah dibagi jenis bahan pangan Indonesia.

 

Ada padi-padian, umbi-umbian, kacang-kacangan, kelapa, buah-buahan, sayuran, daging, air susu, telur, ikan, bumbu, dan minuman. Jenis itu punya aneka makanan dan minuman di dalamnya.

 

Pentingnya pangan lokal

 

Dalam kurun 1950-1970, ada inisiasi untuk membuat pola konsumsi tanpa ketergantungan beras. Pada akhirnya, beras menjadi pangan utama, namun ubi kayu, jagung, dan jenis umbi lain masih berperan dalam mengurangi kesenjangan konsumsi beras.

 

SetelahMustika Rasa muncul, dalam buku itu dijelaskan bahwa pemerintah telah berupaya menujukkan bahan pangan pokok selain beras yang bisa dijadikan makanan pokok. Misalnya saja jagung, ubi, dan umbi-umbian.

 

 

 

Hal ini selaras dengan konsep makan sehat dengan gizi seimbang. Bahwasanya keragaman pangan sangatlah penting untuk membuat kandungan gizi dalam satu porsi makan kita jadi seimbang. Idealnya, setengah dari piring terdiri dari sayur dan buah, seperempatnya diisi dengan protein (ikan, ayam, daging, dan lainnya), kemudian seperempat lainnya terdiri dari beras atau biji-bijian.

 

Pangan lokal kita juga harus bersaing dengan paparan budaya asing dalam dunia kuliner di Indonesia. Serba cepat, praktis, dan mengenyangkan. Rasanya ketiganya cukup bertolakbelakang dengan gaya masak orang Indonesia. Misalnya, rendang yang butuh waktu berjam-jam; dan lainnya.

 

Gaya makan sehat bisa jadi celah pangan lokal kembali digemari

 

Seiring dengan tingginya minat terhadap gaya hidup sehat, sebenarnya pangan lokal Indonesia berpotensi mencuri perhatian kembali. Kalau kamu perhatikan, sudah banyak yang mengganti nasi putih dengan ubi. Salad pun banyak yang pakai ubi ungu, alternatif lain dari labu kuning (pumpkin).

 

Bukan tanpa alasan kalau pangan lokal menarik perhatian para pegiat gaya hidup sehat. Sebuah studi oleh Kathleen Frith dari Harvard School of Public Health mengungkap bahwa pangan lokal punya nutrisi yang lebih baik.