Pamekasan, 02 Agustus 2017

 

PENGUSAHA OLAHAN PANGAN DIMINTA TAK MENCAMPUR BAHAN BERBAHAYA PADA MAKANAN

 

Bhirawa, 15 Mei 2017

Upaya mencengah secara dini bahan-bahan berbahaya pada campuran pangan. Pihak dinas ketahanan pangan dan peternakan (DKPP) kab.pamekasan, mengundang pengusaha/pengelola olahan pangan rumah tangga dan pedagang asongan.

                Para pengusaha UKM dan pedagang asongan diajak meningkatkan mutu dan keamananan pangan, agar selalu terjamin kualitas hygenis makanan untuk mendukung pembangunan kesehatan nasional dan menciptakan generasi bangsa sehat dan berkualitas.

                Penekanan itu disampaikan sekretaris DKPP pamekasan, Munapik S.Ag. M.Pd, pada acara sosialisasi kegiatan peningkatan mutu dan keamanan pangan. Yang diikuti 50 orang peserta berlangsung di aula PKPN pamekasan.

                Menurut Munapik, mewakili Kepala Dinas KPP, perlu menjaga kualitas pangan karena salah satu permasalahan yang terkadang muncul adanya kekhwatiran para konsumen,terutama para orang tua yang merasa ragu yang beredarnya panganan di tengah masyarakat.

                Wajar, bila konsumen, khususnya orang tua ragu dan menyarankan anak-anaknya tak membeli dan mengkonsumsi pangan. Karena pangan (jajanan red) di khwatirkan tercampur bahan berbahaya, seperti boraks,blem,tawas, pewarna tektil, formalin dan lainnya. Tandanya’

                Dalam UU Nomor 18 tahun 2012 tentang pangan. Menggamanatkan mencegah pangan dari kemungkinan cemaran, baik biologis, kimia dan bahan lain, dapat menggagngu dan membahayakan kesehatan manusia,serta tidak bertentangan dengan agama,keyakinan, budaya sehingga aman dikonsumsi masyarakat.

                Persoalan ini agar tidak muncul masalah serius, sehingga perlu ditangani dan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, produsen dan konsumen. “ produsen mengendalikan keamanan pangan, konsumen ikut memantau. Adapun pemerintah bertanggung jawab mengatur dan mengawasai peredarannya.’ Ujar Munapik.

                Ir. Luki Mundiastutik. M.Kes dari akademi gizi Surabaya, selaku pemateri, menyatakan,pentingnya pengawasan mutu dan keamanan pangan, mengigat para orang tua (suami dan istri) di Indonesia keterbatasan menyediakan makanan sendiri karena kesibukan bekerja.

                Maka pengelola/jasa penyedia pangan, kata Luki. Selain paham menjaga keamanan pangan mereka paham ketentuan mengolah pangan yang sehat dan hygenis. “pangan sehat dan hygenis dapat mendukung kesehatan, juga indek pendapatan Masyarakat (IPM) meningkat, ujarnya.

                Penguasaha/pengelola olahan pangan, setelah antusias menyimak. Mereka bergantian bertanya kepada pemateri tentang tata cara pengolahan dan penyajian pangan sehat dan hygenis. Merekapun minta dukungan permodalan, dan memberikan kemudahan pengurusan izin, seperti ke BPOM serta fasilitasi pemasan.