Pamekasan 16 Agustus 2017

 

INOVASI INTAN SATU SAKA

 

Penulis : Indah K Sulistiorini, S.Pt

Budidaya sapi potong (ras Madura) di Kabupaten Pamekasan belum menguntungkan petani. Walaupun secara tradisional dan turun temurun petani membudidayakan sapi madura yang merupakan sumberdaya genetik lokal unggul asli Indonesia, namun belum mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki.  Produktivitas sapi Madura yang rendah, pemotongan dan pengeluaran ternak keluar pulau Madura yang tinggi jika dibiarkan akan menjadi ancaman penurunan populasi sapi Madura.

Rendahnya produktivitas sapi ditunjukkan oleh jarak kelahiran yang panjang (waktu yang dibutuhkan dari melahirkan hingga melahirkan kembali) juga faktor pertambahan bobot badan yang rendah, serta kegagalan kebuntingan sehingga mengakibatkan tingkat kelahiran yang rendah.  Kondisi ini berdampak pada perilaku masyarakat yang memposisikan pekerjaan pemeliharaan sapi hanya sebagai usaha sampingan dan sekedar tabungan yang belum memberikan dampak ekonomis.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa usaha pemeliharaan sapi betina dengan masa produksi 5 tahun, rata-rata hanya mampu menghasilkan pedet (anak sapi) 2 sampai 3 ekor saja, padahal sapi madura mempunyai potensi untuk melahirkan tiap tahun (Naon ; dalam bahasa Madura), asalkan kondisinya sehat dan dalam pemeliharaan yang baik.

Data Kegiatan VBC (Village Building Center) di Kecamatan Waru, Pasean dan Batumarmar  Pamekasan (Tahun 1990 - 1993) menunjukkan bahwa lebih dari 95% sapi betina akseptor IB (sapi yang diikawinkan dengan teknologi Inseminasi Buatan) mempunyai jarak kelahiran yang panjang yaitu ±18-20 bulan.  Sementara yang mampu melahirkan tiap 12 bulan kurang dari 5%.

Inovasi INTAN SATU SAKA (Inseminasi Buatan Satu Tahun Satu Kelahiran) bertujuan memperpendek jarak kelahiran sapi dari rata-rata 18-20 bulan menjadi 12 bulan sekali, melalui perubahan pola pemeliharaan ternak.  INTAN SATU SAKA menjabarkan motto:“1 5 8 excellent” yang berarti 1 (satu)  ekor induk, dalam 5 (lima) tahun berkembang menjadi 8 (delapan) ekor sapi.  Implementasi inovasi ini meliputi:(1) Pendampingan teknis dan pelayanan holistik kepada para peternak dalam melaksanakan inseminasi buatan sejak pra-inseminasi sampai pasca inseminasi, (2) Memberikan bantuan mineral untuk pakan tambahan ternak sapi betina produktif terutama pasca melahirkan;  upaya ini untuk mempercepat munculnya tanda-tanda birahi sehigga dapat dilaksanakan pelayanan inseminasi buatan pada bulan kedua pasca melahirkan, (3) Penanganan gangguan reproduksi, pengobatan gratis dan penyerentakan birahi, (4) Perbaikan recording (sistem pencatatan perkawinan dan kelahiran).  Inovasi ini mulai diterapkan sejak akhir tahun 2009 dan mulai menampakkan perubahan pada tahun 2010

Sebelum pelaksanaan inovasi, sapi betina yang mampu melahirkan tiap tahun jumlahnya hanya 350 ekor (5% dari 7.020 ekor akseptor IB), angka ini meningkat menjadi 8.948 ekor (40% dari 22.392 ekor akseptor IB) setelah pelaksanaan inovasi. Pendapatan peternak juga  meningkat dari 15 juta menjadi 40 juta rupiah per 1 ekor sapi betina produktif selama masa pemeliharaan 5 tahun (dihitung dari asumsi harga pedet lepas sapih 5 juta per ekor).

 

 

Capaian keberhasilan program sebagaimana table berikut :

 

NO

ASPEK

SEBELUM PROGRAM (TAHUN 2008)

SETELAH PROGRAM (TAHUN 2015)

1.

SatuTahunSatuKelahiran

< 5% dari populasi

40% dari populasi

2.

JarakKelahiran

18 -20 bulan

12 bln

3.

Akseptor INTAN SATU SAKA

350 ekor

8.948 ekor

4.

Akseptor IB

7.020 ekor

22.392 ekor

5.

Kebuntingan

4.215 ekor

14.488 ekor

6.

Kelahiran

2.695 ekor

12.700 ekor

7.

Pendapatanpeternak (asumsihargajualpedetlepassapihRp. 5 jt/ekor)

2-3 ekor = 15  juta

 5-8 ekor = 40 juta

8.

Populasisapipotong

124.780 ekor

155.086 ekor

9.

Pejantanpemacekterseleksimilikrakyat yang direkomendasikanuntukkawinalam

-

60 ekor

10

IKM (Indeks Kepuasan Masyarakat)

-

Memuaskan

11

Desa Binaan

-

48 desa

12

Tren pemeliharaan sapi betina di wilayah tengah dan selatan Pamekasan

-

Meningkat dan berorientasi bisnis

13

Nilai tambah bagi peternak

13.475 M

63.5 M

14

Partisipasi peternak

175.000.000,

559.800.000,-

Sumber: Dinas Peternakan Pamekasan (2016)

Bagi petani, inovasi ini membawa perubahan besar.Potensi pendapatan peternak meningkatnya dari 15 juta menjadi 40 juta rupiah per 1 ekor sapi betina produktif selama masa pemeliharaan 5 tahun (dihitung dari asumsi harga pedet lepas sapih 5 juta per ekor), mengubah reputasi usaha peternakan sapi potong menjadi lebih feasible dan bankable, karena lebih menguntungkan secara ekonomis. Dampak lainnya adalah menguatnya upaya pelestarian sapi madura sebagai sumberdaya genetik lokal dalam rangka mewujudkan Pamekasan sebagai wilayah sumber bibit sapi madura.  Peningkatan jumlah sapi madura ini juga berkontribusi terhadap pemenuhunan kebutuhan daging sapi nasional, yakni 24% dipasok oleh Jawa Timur dan dan Madura menyumbang 30% populasi sapi potong Jawa Timur. Peningkatkan ini memperkuat kedaulatan pangan dan swasembada daging sapi nasional.

 

REGULASI

Komitmen Pemerintah Daerah untuk melaksanakan INOVASI INTAN SATU SAKA dikuatkan dalam kebijakan daerah sebagai berikut:

  • Surat Keputusan Bupati Pamekasan No. 188/315 A/441.112/2008 tentang Penetapan Program Unggulan Satu Tahun Satu Kelahiran Pada Ternak Sapi di Kabupaten Pamekasan. 
  • Surat Keputusan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Pamekasan No. 524/91.B/441.112/2008 Tentang  Tata Cara Pelaksanaan Program Satu Tahun Satu Kelahiran Pada Ternak Sapi.

Program INTAN SATU SAKA dituangkan sebagai program prioritas Dinas Peternakan dan sekaligus program prioritas Pemerintah Kabupaten Pamekasan sebagaimana tertuang dalam dokumen perencanaan (Renstra, Renja, RKT). secara sinergis dan berkesinambungan untuk mendorong keberhasilan Program INTAN SATU SAKA

Ø  PEMANFAATAN TEKNOLOGI

Teknologi yang digunakan untuk mendukung program intan satu saka antara lain:

1.      Inseminasi Buatan (IB)

Inseminasi buatan merupakan suatu teknologi reproduksi dengan jalan memasukan mani atau semen ke dalam alat kelamin hewan  betina sehat dengan menggunakan alat Inseminasi Buatan dengan tujuan agar hewan itu bunting.

Manfaat: (a) meningkatkan mutu genetik sapi lokal, (b)  mengatasi masalah kekurangan pejantan unggul, (c) mengurangi penyebaran penyakit kelamin yang dapat ditularkan melalui kawin alam.

2.      Pengolahan pakan ternak dan limbah kotoran ternak

Manfaat: (a) meningkatkan kualitas dan kuantitas pakan ternak dengan memanfaatkan limbah pertanian, (b) meningkatkan niilai manfaat dan nilai ekonomis limbah kotoran ternak.

3.      Permintaan layanan dan Pelaporan akseptor INTAN SATU SAKA menggunakan sms dan call centre

Manfaat: mempermudah dan mempercepat komunikasi dan penyampaian informasi.

Capaian / Gambaran Keberhasilan pelaksanaan program INTAN SATU SAKA tertuang dalam tabel berikut . 

 

No.

Uraian

2010

2011

2012

2013

2014

2015

1.

Populasi sapi potong

124.780

127.674

142.445

149.855

152.045

155.086

2.

Populasi sapi betina produktif

48.826

49.959

55.739

58.638

59.443

59.480

3.

Jumlah Akseptor IB (ekor)

13.552

14.113

15.171

17.598

21.357

22.392

4.

Angka Kebuntingan (ekor)

9.535

10.593

9.898

13.079

15.765

14.488

5.

Angka Kelahiran (ekor)

7.468

8.432

8.789

10.098

11.855

12.700

6.

Akseptor SATU SAKA (ekor)

3.660

5.572

5.750

5.862

5.940

8.948

7.

Nilai tambah bagi masyarakat

18,3 M

27,86 M

28,75 M

29,31 M

29,7 M

44,73 M

       Sumber: Dinas Peternakan Pamekasan (tahun 2016)

kunci sukses untuk pihak lain yang mereplikasi antara lain :

1.      Konsistensi dan komitmen dari pemerintah daerah.

2.      Dukungan dari semua pihak.

3.      Menjadikan inovasi ini sebagai budaya kerja aparatur.

4.      Menjadikan inovasi ini sebagai kebijakan strategis daerah.