Tanggal 20 Oktober 2017

KAJIAN STRATEGIS MEMBANGUN KAWASAN TENGAH PULAU MADURA

(Oleh: Ir. Santoso Tohar, MT*)

 

 

A.    Gambaran Umum

Tak terbantahkan, kawasan tengah Pulau Madura mulai dari ujung timur di Kabupaten Sumenep sampai wilayah barat Kabupaten Bangkalan, relatif tertinggal dibanding dengan wilayah selatan dan utara yang lebih maju. Ketergantungan mata pencaharian  terhadap sektor pertanian tradisional ditengarai menjadi kendala disamping faktor topografi wilayah yang berbukit kapur. Kendala ini tentunya telah disadari sejak lama, Kabupaten Pamekasan misalnya mencoba melaksanakan dengan pendekatan wilayah RUPANANDUR (Kecamatan Waru, Pakong, Pegantenan, dan Kadur), selain itu ada titik-titik tertentu yang potensial untuk dikedepankan, diprioritaskan, dan dikoordinasikan secara berjenjang, baik dengan pemerintah Kabupaten Sampang, Sumenep, dan Bangkalan, bahkan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur atau pusat.   Upaya harus terus dilakukan dengan menggali potensi lokal dipadukan dan disenergikan dengan kebutuhan regional dan kepentingan nasional. Pulau Madura telah lama dikenal bahkan identik dengan sapi, tembakau, dan garam. Sebutan pulau garam, pulau sapi, dan tembakau madura sudah begitu akrab di telinga orang Indonesia.

Disamping tembakau, garam, dan sapi ada beberapa tempat, komoditas yang cukup dikenal dan akrab di kawasan tengah Pulau Madura seperti; Gua Payudan, Ponjhuk, B.P. Somalang-Pakong, bawang merah monjung, tembakau prancak, durian kasor lokal Pegantenan, sapi emas Pakong, sapi sono’, sapi pajangan, dan banyak lagi seperti perguruan tinggi berbasis pondok pesantren, mulai dari An- Nuqayah Sumenep, Sumber Bungur  Pakong, Al Khairat Pegantenan, di Kabupaten Pamekasan, Industri Genteng Karang Penang, Pasarean Batoampar dan Waduk Klampis di Kecamatan Kedungdung, Sampang. Objek-objek dan komoditas yang disebut di atas dapat dijadikan sasaran pemicu dan pemacu pengembangan wilayah tengah Pulau Madura.

Ada tiga pendekatan utama yang seharusnya dilakukan, peningkatan secara menyeluruh, sektor pertanian/peternakan/perkebunan. Pendidikan dan wisata (Agro atau relig). Membangun infrastruktur pertanian seperti Balai Pertanian/Peternakan Somalang, atau agrowisata berbasis buah lokal (durin kasor) atau wisata religi Batuampar-Sampang atau Gua Payudan di Sumenep merupakan contoh objek komoditas yang bisa diandalkan terutama apabila dikaitkan dengan konteks membangun kawasan tengah Pulau Madura. Prioritas tamaknya harus diberikan pada sektor pertanian sub-sektor peternakan, mengingat cakupan sumber daya lokal yang begitu luas (sapi madura), skala kebutuhan nasional dalam rangka swasembada daging sapi nasional dan teknologi andalan yang sudah diakui secara nasional perlu terus dikembangkan karena secara teknis dan ekonomis bisnis sangat prospektif, yaitu Program Intan Satusaka.

 

B.     Program Intan Satusaka

Program Satu Saka (Satu Tahun Satu Kelahiran) pada sapi, sejak dicanangkan oleh Bapak Bupati Pamekasan Drs. Ahmad Syafii, M.Si sebagai program unggulan Kabupaten Pamekasan, tahun 2008 yang lalu dan terus menuai apresiasi dari banyak pihak terutama dari Kementerian terkait, pada tahun 2012 program ini masuk kategori lima besar Inovasion Governance Award (IGA) yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Selain itu, pada tahun 2015 Program Satusaka masuk Top 33 Layanan Publik yang diselenggarakan oleh Kemenpan-RB RI, dan pada tahun 2016 oleh kementerian yang sama diikutkan dalam forum PBB yaitu UNPSA, United Nation of Publik Service Award, sehingga bukan tidak mungkin program ini mendapatkan appresiasi tingkat internasional.

Program yang mengambil tagline “Intan Satusaka 158 Excellence“ bermakna inseminasi buatan (pada sapi) satu tahun satu kelahiran, satu induk (1) dalam lima (5) tahun bisa dikembangkan menjadi delapan (8) ekor. Dalam perjalanannya, program ini sangat dirasakan manfaatnya oleh para petani-peternak, baik melalui testimoni ataupun fakta lain dilapangan. Sesungguhnya nilai dan filosofi Satusaka ini adalah kebiasaan yang sudah mengakar di kalangan peternak, ini bisa dilihat dari istilah bahasa “Naon” (bahasa Madura) yang artinya melahirkan setiap tahun.

Prof. DR. Siti Zuhro, salah seorang juri dari LIPI dalam sambutannya menilai program Satusaka ini sangat baik dan merupakan salah satu solusi pencapaian kesejahteraan peternak, serta pencapaian Swasembada daging nasional. Inilah  perspektif yang harus terus dikembangkan dan dilanjutkan walaupun sangat bernuansa teknis. Balai Peternakan Somalang bisa dikemas dalam sebuah konsep taman yang bisa diakses semua orang untuk sekedar berwisata agro atau studi banding, walaupun tugas pokok sesungguhnya adalah penelitian dan pengembangan peternakan sapi.

 

C.     Balai Peternakan Somalang Pakong.

Dalam konstalasi pembangunan peternakan ke depan, balai ini akan sangat strategis sebagai pusat pengembangan sapi madura di Pulau Madura. Selain mempunyai nilai historis, sampai dengan periode 2000-2010 balai ini cukup produktif dalam menghasilkan beberapa pengamatan dan kajian, diantaranya Program Intan Satusaka. (baca www.santosomt.wordpress.com klik Balai Peternakan Somalang Pakong). Inovasi yang telah menuai apresiasi tidak harus berhenti pada tatanan teori, tapi juga harus terus dikembangkan untuk media pembelajaran, penelitian, dan pengembangan pertanian terutama yang berbasis sumber daya lokal, seperti tembakau prancak, bawang merah manjung, durian kasor, dll. Argumentasi lain yang menguatkan Balai Peternakan ini harus segera dibangun adalah telah diusulkannya kawasan PAPABARU sebagai kawasan sumber bibit sapi madura oleh Menteri Pertanian. Terlepas status kepemilikan dan pembangunannya nantinya Stasiun Uji Performance (SUP) mutlak harus ada.

D.    Penutup

Untuk kepentingan pembangunan Kabupaten Pamekasan ke depan, dan pengembangan sumber daya lokal khusunya sapi madura dan terus mengawal prestasi  inovasi Intan Satusaka. Sudah saatnya hal  ini dijadikaan momentum pembangunan Pamekasan khususnya, dan kawasan tengah Pulau Madura.

Demikian yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat dan berkenan. Terima kasih.